Selama berpuasa tubuh
tidak mendapatkan
asupan makanan maupun
cairan sekitar 14 jam.
Oleh karena itu, penting
bagi Anda untuk
memerhatikan pola
makan dan pola tidur
agar bisa menjalani puasa
dengan baik. Simak
sembilan tips sehat
selama puasa seperti
yang dikutip dari About.
1. Sebelum mulai
berpuasa, ada baiknya
untuk mengonsultasikan
kesehatan Anda dengan
dokter. Tanyakan
mengenai pola makan,
waktu yang tepat untuk
meminum obat atau
multivitamin dan juga
jenis olahraga yang boleh
dilakukan selama
berpuasa.
2. Peran sahur saat
berpuasa sangatlah
penting. Menu yang
dimakan bisa
memengaruhi kerja tubuh
Anda selama seharian
penuh. Konsumsilah
makanan yang
mengandung karbohidrat
kompleks seperti ubi,
jagung, singkong,
oatmeal, roti gandum dan
nasi merah karena bantu
menahan kenyang lebih
dari 6 jam. Protein, buah,
sayur serta air putih yang
cukup juga bantu
menjaga stamina Anda
selama puasa.
3. Hindari mengonsumsi
makanan berminyak.
Makanan ini akan
membuat sel darah
merah menggumpal
sehingga menyebabkan
aliran oksigen menjadi
berkurang hingga 20
persen. Akibatnya Anda
akan mengantuk pada
siang hari.
4. Ketika udara semakin
panas dan terik, usahakan
untuk beraktivitas di
dalam ruangan yang
dingin atau tempat teduh.
Batasi pula aktivitas fisik
agar Anda tidak mudah
lelah.
5. Berbuka puasa dengan
makan secukupnya.
Langsung memakan
banyak makanan hanya
akan membuat perut
terasa sesak akibat
lambung akan mengecil
dan enzim-enzim
pencernaan berkurang.
Para pakar kesehatan
menganjurkan untuk
makan secara bertahap,
mulai dari air putih
beberapa teguk, sedikit
makanan manis, dan
selang minimal setengah
atau satu jam baru
makan besar.
6. Banyak orang yang
keliru mengartikan
maksud dari 'berbuka
dengan yang manis'.
Mengonsumsi makanan
atau minuman manis
memang baik dilakukan
pada saat buka puasa,
agar dapat segera
memulihkan energi
setelah seharian
berpuasa. Tapi yang keliru
adalah porsi makanan
atau minuman manis
yang dikonsumsi terlalu
banyak, apalagi jika rasa
manis tersebut terbuat
dari gula.
7. Pada saat makan
malam, pastikan untuk
tidak makan terlalu
banyak untuk mencegah
obesitas. Selain itu,
hindari meminum kopi
dan soda karena bisa
buat Anda sulit tidur dan
menimbun banyak lemak.
Ganti kedua minuman
tersebut dengan air
mineral dan jus buah.
8. Lakukan olahraga
ringan saat malam hari.
Misalnya dengan berjalan
kaki selama 15 hingga 20
menit setelah makan
malam.
9. Selain memerhatikan
asupan makanan,
pengaturan pola tidur
juga merupakan hal yang
penting. Mengantuk
selama puasa bukanlah
disebabkan karena tak
makan dan minum
seharian, melainkan
karena tak memiliki
waktu tidur yang cukup.
Jika harus bangun pagi
untuk menyiapkan makan
sahur, maka pada malam
harinya Anda tidak boleh
begadang untuk
keperluan yang tidak
terlalu penting.
Kalaupun tidur malamnya
masih tidak mencukupi,
luangkan waktu 20-30
menit untuk melakukan
power-nap di siang hari.
Tidur siang yang singkat
tapi berkualitas akan
bantu memulihkan energi
Anda.
SUMBER: DETIK.COM
gerakan
menanam1
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 Agustus 2011
Selasa, 02 Agustus 2011
Berakhlak dengan Sifat- sifat Tuhan
Tujuan akhir puasa tak
pernah mengalami
perubahan yakni
mencapai takwa. Salah
satu jalannya adalah
berakhlak dengan sifat-
sifat Tuhan.
M Quraish Shihab, guru
besar Tafsir Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta
dalam bukunya,
Membumikan Al-Qur'an
menulis, dalam
kehidupannya, manusia
memiliki banyak
kebutuhan.
Secara garis besarnya,
dapat dikelompokkan
pada lima kebutuhan
pokok yakni (a)
kebutuhan fa'ali (makan,
minum dan kebutuhan
seksual); (b) kebutuhan
akan ketenteraman dan
keamanan; (c) kebutuhan
akan ketertarikan pada
kelompok; (d) kebutuhan
akan rasa penghormatan;
dan (e) kebutuhan akan
pencapaian cita-cita.
Menurutnya, kebutuhan
kedua tidak akan
mendesak manusia
sebelum kebutuhan
pertama terpenuhi.
Bahkan, seseorang dapat
mengorbankan kebutuhan
berikutnya bila kebutuhan
sebelumnya belum
terpenuhi. "Sebaliknya,
seseorang yang mampu
mengendalikan dirinya
dalam kebutuhan
pertama, akan dengan
mudah mengendalikan
kebutuhan-kebutuhannya
yang berada pada posisi
berikutnya," ujar Quraish.
Dalam berpuasa,
lanjutnya, dari segi hukum
puasa, seseorang
berkewajiban
mengendalikan dirinya
berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan
fa'ali dalam waktu-waktu
tertentu. Dalam berpuasa,
yang bersangkutan juga
sekaligus berusaha
mengembangkan
potensinya agar
membentuk dirinya sesuai
dengan 'peta' Tuhan
dengan jalan mencontoh
Tuhan dalam sifat-
sifatnya.
Karena itu, Rasullullah
saw bersabda,
"Berakhlaklah
(bersifatlah) kamu
sekalian dengan sifat-sifat
Tuhan."
Ditinjau dari hukum
puasa, lanjut Quraish, sifat
Tuhan yang diusahakan
untuk diteladani oleh yang
berpuasa adalah: (1)
bahwa Dia (Tuhan)
memberikan makan dan
tidak diberi makan (QS 6:
14); dan (2) Dia tidak
memiliki teman wanita
(istri) (QS 6: 101).
Kedua hal tersebut,
menurutnya, terpilih
untuk diteladani karena
keduanya merupakan,
kebutuhan fa'ali manusia
yang terpenting.
Keberhasilan dalam
pengendaliannya
mengantar kepada
kesuksesan
mengendalikan
kebutuhan-kebutuhan
lainnya.
Demikian pula dengan
sifat 'Rahman' (Maha
Pengasih) dan
'Rahim' (Maha Penyayang)
. Sifat-sifat ini dituntut
pula untuk diteladani
sehingga rahmat dan
kasih sayang tadi terasa
bagi seluruh makhluk
Tuhan.
Demikian seterusnya
dengan sifat-sifat Tuhan
lainnya yang harus
dihayati esensinya untuk
diteladani sesuai dengan
kemampuannya sebagai
manusia. "Dengan
mencontoh sifat-sifat
Tuhan, berarti
membangun dan
memakmurkan bumi ini
sehingga pada akhirnya,
bumi ini menjadi 'bayang-
bayang' surga yang penuh
dengan keamanan dan
kedamaian, serta
pemenuhan segala
kebutuhan hidup manusia
seperti sandang, pangan
dan papan," urai Quraish.
Seseorang yang berusaha
meneladani Tuhan dalam
sifat-sifat-Nya,
digambarkan oleh filosof
muslim Ibn Sina,
"Seseorang yang bebas
dari ikatan raganya, dalam
dirinya terdapat sesuatu
yang tersembunyi, namun
dari dirinya tampak
sesuatu yang nyata. Ia
akan selalu gembira dan
banyak tersenyum. Betapa
tidak, karena hatinya telah
dipenuhi kegembiraan
sejak sejak ia mengenal-
Nya. Di mana-mana ia
hanya melihat satu saja:
melihat kebenaran,
melihat Yang Mahasuci
itu."
SUMBER: INILAH.COM
pernah mengalami
perubahan yakni
mencapai takwa. Salah
satu jalannya adalah
berakhlak dengan sifat-
sifat Tuhan.
M Quraish Shihab, guru
besar Tafsir Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta
dalam bukunya,
Membumikan Al-Qur'an
menulis, dalam
kehidupannya, manusia
memiliki banyak
kebutuhan.
Secara garis besarnya,
dapat dikelompokkan
pada lima kebutuhan
pokok yakni (a)
kebutuhan fa'ali (makan,
minum dan kebutuhan
seksual); (b) kebutuhan
akan ketenteraman dan
keamanan; (c) kebutuhan
akan ketertarikan pada
kelompok; (d) kebutuhan
akan rasa penghormatan;
dan (e) kebutuhan akan
pencapaian cita-cita.
Menurutnya, kebutuhan
kedua tidak akan
mendesak manusia
sebelum kebutuhan
pertama terpenuhi.
Bahkan, seseorang dapat
mengorbankan kebutuhan
berikutnya bila kebutuhan
sebelumnya belum
terpenuhi. "Sebaliknya,
seseorang yang mampu
mengendalikan dirinya
dalam kebutuhan
pertama, akan dengan
mudah mengendalikan
kebutuhan-kebutuhannya
yang berada pada posisi
berikutnya," ujar Quraish.
Dalam berpuasa,
lanjutnya, dari segi hukum
puasa, seseorang
berkewajiban
mengendalikan dirinya
berkaitan dengan
kebutuhan-kebutuhan
fa'ali dalam waktu-waktu
tertentu. Dalam berpuasa,
yang bersangkutan juga
sekaligus berusaha
mengembangkan
potensinya agar
membentuk dirinya sesuai
dengan 'peta' Tuhan
dengan jalan mencontoh
Tuhan dalam sifat-
sifatnya.
Karena itu, Rasullullah
saw bersabda,
"Berakhlaklah
(bersifatlah) kamu
sekalian dengan sifat-sifat
Tuhan."
Ditinjau dari hukum
puasa, lanjut Quraish, sifat
Tuhan yang diusahakan
untuk diteladani oleh yang
berpuasa adalah: (1)
bahwa Dia (Tuhan)
memberikan makan dan
tidak diberi makan (QS 6:
14); dan (2) Dia tidak
memiliki teman wanita
(istri) (QS 6: 101).
Kedua hal tersebut,
menurutnya, terpilih
untuk diteladani karena
keduanya merupakan,
kebutuhan fa'ali manusia
yang terpenting.
Keberhasilan dalam
pengendaliannya
mengantar kepada
kesuksesan
mengendalikan
kebutuhan-kebutuhan
lainnya.
Demikian pula dengan
sifat 'Rahman' (Maha
Pengasih) dan
'Rahim' (Maha Penyayang)
. Sifat-sifat ini dituntut
pula untuk diteladani
sehingga rahmat dan
kasih sayang tadi terasa
bagi seluruh makhluk
Tuhan.
Demikian seterusnya
dengan sifat-sifat Tuhan
lainnya yang harus
dihayati esensinya untuk
diteladani sesuai dengan
kemampuannya sebagai
manusia. "Dengan
mencontoh sifat-sifat
Tuhan, berarti
membangun dan
memakmurkan bumi ini
sehingga pada akhirnya,
bumi ini menjadi 'bayang-
bayang' surga yang penuh
dengan keamanan dan
kedamaian, serta
pemenuhan segala
kebutuhan hidup manusia
seperti sandang, pangan
dan papan," urai Quraish.
Seseorang yang berusaha
meneladani Tuhan dalam
sifat-sifat-Nya,
digambarkan oleh filosof
muslim Ibn Sina,
"Seseorang yang bebas
dari ikatan raganya, dalam
dirinya terdapat sesuatu
yang tersembunyi, namun
dari dirinya tampak
sesuatu yang nyata. Ia
akan selalu gembira dan
banyak tersenyum. Betapa
tidak, karena hatinya telah
dipenuhi kegembiraan
sejak sejak ia mengenal-
Nya. Di mana-mana ia
hanya melihat satu saja:
melihat kebenaran,
melihat Yang Mahasuci
itu."
SUMBER: INILAH.COM
Makan Buah Segar Saat Sahur Bisa Kurangi Risiko Dehidrasi
Puasa berarti tidak minum
seharian, sehingga cairan
tubuh yang hilang tidak
tergantikan. Untuk
mencegah dehidrasi,
beberapa hal terkait pola
makan perlu diperhatikan
salah satunya dengan
memasukkan buah segar
dalam menu makan
sahur.
Buah-buahan tertentu
khususnya yang banyak
mengandung air bisa
membantu menjaga
kecukupan cairan selama
berpuasa sepanjang hari.
Melon, semangka, timun
dan tomat termasuk
buah-buahan yang
dianjurkan untuk
dikonsumsi saat makan
sahur dan berbuka.
Selain mengandung air,
buah-buahan tersebut
juga banyak mengandung
mineral penting untuk
menjaga keseimbangan
eletrolit tubuh.
Kandungan mineralnya
lebih banyak
dibandingkan sumber-
sumber karbohidrat
seperti nasi dan roti,
maupun lauk- pauk
seperti ikan dan daging
ayam.
Meski demikian, unsur
terpenting yang harus
dipenuhi untuk mencegah
dehidrasi di siang hari
tentu saja air. Air putih
paling dianjurkan,
sementara kopi dan teh
sebaiknya dikurangi
karena mengandung
kafein yang bersifat
diuretik atau meluruhkan
kencing.
Minuman bersoda juga
harus dibatasi selama
puasa, karena jenis
minuman seperti ini juga
mengandung kafein.
Meski untuk sesaat bisa
memberikan sensasi
segar, dalam jangka
beberapa jam kemudian
kafein akan menyebabkan
sering kencing lalu
dehidrasi karena selama
puasa tidak boleh minum
untuk menggantikan
cairan yang keluar.
Hilangnya cairan tubuh
saat berpuasa di siang
hari tidak hanya terjadi
saat kencing dan
berkeringat. Dikutip dari
Healthycan, Selasa
(2/8/2011), cairan tubuh
juga keluar dalam bentuk
uap melalui permukaan
kulit maupun rongga
mulut dan lubang hidung
saat bernapas dan
berbicara.
Meski harus mencukupi
kebutuhan cairan
sepanjang hari, bukan
berarti saat sahur dan
berbuka harus minum air
putih banyak-banyak. Air
putih yang dikonsumsi
memang harus banyak,
tetapi tidak boleh
sekaligus melainkan harus
secara teratur dan
bertahap sepanjang
malam.
Tidak sulit untuk
mengatur waktu minum
di malam hari, yang
penting jangan
dipaksakan untuk minum
terlalu banyak dalam
waktu bersamaan.
Sebagai contoh saat
berbuka minum 2 gelas,
sebelum tidur minum lagi
dan seterusnya hingga
terpenuhi kebutuhan
untuk sehari yang
jumlahnya kurang lebih 2
liter.
SUMBER: DETIK.COM
seharian, sehingga cairan
tubuh yang hilang tidak
tergantikan. Untuk
mencegah dehidrasi,
beberapa hal terkait pola
makan perlu diperhatikan
salah satunya dengan
memasukkan buah segar
dalam menu makan
sahur.
Buah-buahan tertentu
khususnya yang banyak
mengandung air bisa
membantu menjaga
kecukupan cairan selama
berpuasa sepanjang hari.
Melon, semangka, timun
dan tomat termasuk
buah-buahan yang
dianjurkan untuk
dikonsumsi saat makan
sahur dan berbuka.
Selain mengandung air,
buah-buahan tersebut
juga banyak mengandung
mineral penting untuk
menjaga keseimbangan
eletrolit tubuh.
Kandungan mineralnya
lebih banyak
dibandingkan sumber-
sumber karbohidrat
seperti nasi dan roti,
maupun lauk- pauk
seperti ikan dan daging
ayam.
Meski demikian, unsur
terpenting yang harus
dipenuhi untuk mencegah
dehidrasi di siang hari
tentu saja air. Air putih
paling dianjurkan,
sementara kopi dan teh
sebaiknya dikurangi
karena mengandung
kafein yang bersifat
diuretik atau meluruhkan
kencing.
Minuman bersoda juga
harus dibatasi selama
puasa, karena jenis
minuman seperti ini juga
mengandung kafein.
Meski untuk sesaat bisa
memberikan sensasi
segar, dalam jangka
beberapa jam kemudian
kafein akan menyebabkan
sering kencing lalu
dehidrasi karena selama
puasa tidak boleh minum
untuk menggantikan
cairan yang keluar.
Hilangnya cairan tubuh
saat berpuasa di siang
hari tidak hanya terjadi
saat kencing dan
berkeringat. Dikutip dari
Healthycan, Selasa
(2/8/2011), cairan tubuh
juga keluar dalam bentuk
uap melalui permukaan
kulit maupun rongga
mulut dan lubang hidung
saat bernapas dan
berbicara.
Meski harus mencukupi
kebutuhan cairan
sepanjang hari, bukan
berarti saat sahur dan
berbuka harus minum air
putih banyak-banyak. Air
putih yang dikonsumsi
memang harus banyak,
tetapi tidak boleh
sekaligus melainkan harus
secara teratur dan
bertahap sepanjang
malam.
Tidak sulit untuk
mengatur waktu minum
di malam hari, yang
penting jangan
dipaksakan untuk minum
terlalu banyak dalam
waktu bersamaan.
Sebagai contoh saat
berbuka minum 2 gelas,
sebelum tidur minum lagi
dan seterusnya hingga
terpenuhi kebutuhan
untuk sehari yang
jumlahnya kurang lebih 2
liter.
SUMBER: DETIK.COM
Senin, 01 Agustus 2011
Puasa Sehat Bagi Penderita Diabetes
Diabetes atau yang
sering disebut kencing
manis bukan
penghalang untuk
menjalani ibadah
puasa, asalkan
terkontrol dengan baik.
Menurut Kepala Divisi
Metabolik Endokrin
Departemen Penyakit
Dalam FKUI, dr. Imam
Subekti, SpPD-KEMD, sah-
sah saja bila penderita
diabetes berencana untuk
menjalankan ibadah
puasa. Asalkan
sebelumnya berkonsultasi
terlebih dahulu dengan
dokter ahli, agar ketika
menjalani ibadah
puasanya tetap aman.
"penderita harus
memastikan dan
menghontrol terlebih
dahulu diabetesnya.
Diabetes dikatakan
norman, jika dengan
terapi obat kadar gula
darah bisa berada pada
rentang normal (70
sampai 100 saat puasa),"
ungkap dr. Imam.
Selain itu, sambung dr.
Imam, yang terpenting
adalah memperhatikan
jumlah asupan kalori dan
sumber asupan kalori.
Sumber kalori
menurutnya, sebaiknya
dipilih lebih banyak dari
makanan yang mudah
dicerna, seperti sayur dan
buah.
"Makanan yang
dikonsumsipun sangatlah
harus diperhatikan, seperti
menghindari makanan
dan minuman yang
mengandung kadar gula
tingi," tambah dr. Imam.
Yang tidak kalah
pentingnya, penderita
diabetes yang berpuasa
juga harus memastikan
bahwa mereka
mengurangi konsumsi
garam saat berpuasa
untuk mengurangi efek
dehidrasi yang mungkin
timbul.
Sementara itu untuk
mengurangi kondisi
hipoglikemi, dr. Imam
menyarankan bagi
penderita diabetes agar
lebih banyak beristirahat
ketika sedang berpuasa.
Intinya, terang dr. Imam,
pasien diabetes bisa
menjalani ibadah puasa
setelah memastikan
diabetes mereka
terkontrol dengan baik.
Sumber: INILAH.COM
sering disebut kencing
manis bukan
penghalang untuk
menjalani ibadah
puasa, asalkan
terkontrol dengan baik.
Menurut Kepala Divisi
Metabolik Endokrin
Departemen Penyakit
Dalam FKUI, dr. Imam
Subekti, SpPD-KEMD, sah-
sah saja bila penderita
diabetes berencana untuk
menjalankan ibadah
puasa. Asalkan
sebelumnya berkonsultasi
terlebih dahulu dengan
dokter ahli, agar ketika
menjalani ibadah
puasanya tetap aman.
"penderita harus
memastikan dan
menghontrol terlebih
dahulu diabetesnya.
Diabetes dikatakan
norman, jika dengan
terapi obat kadar gula
darah bisa berada pada
rentang normal (70
sampai 100 saat puasa),"
ungkap dr. Imam.
Selain itu, sambung dr.
Imam, yang terpenting
adalah memperhatikan
jumlah asupan kalori dan
sumber asupan kalori.
Sumber kalori
menurutnya, sebaiknya
dipilih lebih banyak dari
makanan yang mudah
dicerna, seperti sayur dan
buah.
"Makanan yang
dikonsumsipun sangatlah
harus diperhatikan, seperti
menghindari makanan
dan minuman yang
mengandung kadar gula
tingi," tambah dr. Imam.
Yang tidak kalah
pentingnya, penderita
diabetes yang berpuasa
juga harus memastikan
bahwa mereka
mengurangi konsumsi
garam saat berpuasa
untuk mengurangi efek
dehidrasi yang mungkin
timbul.
Sementara itu untuk
mengurangi kondisi
hipoglikemi, dr. Imam
menyarankan bagi
penderita diabetes agar
lebih banyak beristirahat
ketika sedang berpuasa.
Intinya, terang dr. Imam,
pasien diabetes bisa
menjalani ibadah puasa
setelah memastikan
diabetes mereka
terkontrol dengan baik.
Sumber: INILAH.COM
Puasa Realisasikan Bayangan Surga di Bumi
Tujuan utama puasa
adalah takwa. Itu bisa
dicapai dengan
menghayati hakikat dan
kewajiban manusia
yakni sebagai khalifah
(pengganti) Tuhan
untuk merealisasikan
bayangan surga di
bumi.
M Quraish Shihab, guru
besar tafsir Universitas
Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
dalam bukunya
Membumikan Al-Qur’an
menulis, meski puasa
telah lama dikenal oleh
umat manusia, bukan
bararti usang atau
ketinggalan zaman.
Generasi abad 21 ini,
masih melakukannya
dengan berbagai motif
dan dorongan.
Puasa dalam arti
‘mengendalikan
mengendalikan dan
menahan diri untuk tidak
makan dan minum dalam
waktu tertentu’ dilakukan
antara lain dengan tujuan
memelihara kesehatan
atau merampingkan
tubuh. Atau, dalam
bentuk mogok makan
sebagai pertanda protes
atas perlakuan pihak lain.
Puasa juga dilakukan
sebagai tanda solidaritas
atas malapetaka yang
menimpa teman atau
saudara. Puasa semacam
ini terdapat pada
beberapa suku di India
dan lainnya yang hingga
kini masih berlaku. “Puasa
dengan aneka ragam
tujuan dan bentuk
tersebut dihimpun oleh
satu esensi, yaitu
pengendalian diri,” imbuh
Quraish.
Puasa yang dilakukan
umat Islam, digarisbawahi
oleh Al-Qur’an, bertujuan
untuk memperoleh takwa.
Menurut Quraish, tujuan
tersebut akan tercapai
dengan menghayati arti
puasa itu sendiri. “Untuk
memahami dan
menghayati arti puasa,
memerlukan pemahaman
terhadap dua hal pokok
menyangkut hakikat
manusia dan
kewajibannya di bumi ini,”
ujarnya.
Pertama, manusia
diciptakan oleh Tuhan dari
tanah, kemudian
dihembuskan kepadanya
Ruh ciptaan-Nya dan
diberikan potensi untuk
mengembangkan dirinya
hingga mencapai satu
tingkat yang
menjadikannya wajar
untuk menjadi khalifah
(pengganti) Tuhan dalam
memakmurkan bumi ini.
Dalam Kitab Perjanjian
Lama, demikian pula
dalam kitab-kitab Hadits,
ditemukan bahwa Tuhan
menciptakan manusia
menurut ‘petanya’ dalam
arti diberi potensi untuk
memiliki sifat-sifat Tuhan
sesuai dengan
kemampuannya sebagai
makhluk.
Kedua, dalam perjalanan
manusia menuju bumi, ia
(Adam) melewati (‘transit’
di) surga, agar
pengalaman yang
diperolehnya di sana
dapat dijadikan bekal
dalam menyukseskan
tugas pokoknya di bumi
ini. Pengalaman tersebut
antara lain adalah
persentuhannya dengan
keadaan di surga itu
sendiri.
Di surga, lanjut Quraish,
tersedia segala macam
kebutuhan manusia
seperti sandang, pangan,
serta ketenteraman lahir
dan batin (QS 20: 118-119
dan QS 56: 25). Hal ini
mendorongnya untuk
menciptakan bayangan
surga di bumi,
sebagaimana
pengalamannya dengan
setan mendorongnya
untuk hati-hati agar tidak
terpedaya lagi sehingga
mengalami kepahitan
yang dirasakan ketika
terusir dari surga.
Sumber:Inilah.com
adalah takwa. Itu bisa
dicapai dengan
menghayati hakikat dan
kewajiban manusia
yakni sebagai khalifah
(pengganti) Tuhan
untuk merealisasikan
bayangan surga di
bumi.
M Quraish Shihab, guru
besar tafsir Universitas
Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
dalam bukunya
Membumikan Al-Qur’an
menulis, meski puasa
telah lama dikenal oleh
umat manusia, bukan
bararti usang atau
ketinggalan zaman.
Generasi abad 21 ini,
masih melakukannya
dengan berbagai motif
dan dorongan.
Puasa dalam arti
‘mengendalikan
mengendalikan dan
menahan diri untuk tidak
makan dan minum dalam
waktu tertentu’ dilakukan
antara lain dengan tujuan
memelihara kesehatan
atau merampingkan
tubuh. Atau, dalam
bentuk mogok makan
sebagai pertanda protes
atas perlakuan pihak lain.
Puasa juga dilakukan
sebagai tanda solidaritas
atas malapetaka yang
menimpa teman atau
saudara. Puasa semacam
ini terdapat pada
beberapa suku di India
dan lainnya yang hingga
kini masih berlaku. “Puasa
dengan aneka ragam
tujuan dan bentuk
tersebut dihimpun oleh
satu esensi, yaitu
pengendalian diri,” imbuh
Quraish.
Puasa yang dilakukan
umat Islam, digarisbawahi
oleh Al-Qur’an, bertujuan
untuk memperoleh takwa.
Menurut Quraish, tujuan
tersebut akan tercapai
dengan menghayati arti
puasa itu sendiri. “Untuk
memahami dan
menghayati arti puasa,
memerlukan pemahaman
terhadap dua hal pokok
menyangkut hakikat
manusia dan
kewajibannya di bumi ini,”
ujarnya.
Pertama, manusia
diciptakan oleh Tuhan dari
tanah, kemudian
dihembuskan kepadanya
Ruh ciptaan-Nya dan
diberikan potensi untuk
mengembangkan dirinya
hingga mencapai satu
tingkat yang
menjadikannya wajar
untuk menjadi khalifah
(pengganti) Tuhan dalam
memakmurkan bumi ini.
Dalam Kitab Perjanjian
Lama, demikian pula
dalam kitab-kitab Hadits,
ditemukan bahwa Tuhan
menciptakan manusia
menurut ‘petanya’ dalam
arti diberi potensi untuk
memiliki sifat-sifat Tuhan
sesuai dengan
kemampuannya sebagai
makhluk.
Kedua, dalam perjalanan
manusia menuju bumi, ia
(Adam) melewati (‘transit’
di) surga, agar
pengalaman yang
diperolehnya di sana
dapat dijadikan bekal
dalam menyukseskan
tugas pokoknya di bumi
ini. Pengalaman tersebut
antara lain adalah
persentuhannya dengan
keadaan di surga itu
sendiri.
Di surga, lanjut Quraish,
tersedia segala macam
kebutuhan manusia
seperti sandang, pangan,
serta ketenteraman lahir
dan batin (QS 20: 118-119
dan QS 56: 25). Hal ini
mendorongnya untuk
menciptakan bayangan
surga di bumi,
sebagaimana
pengalamannya dengan
setan mendorongnya
untuk hati-hati agar tidak
terpedaya lagi sehingga
mengalami kepahitan
yang dirasakan ketika
terusir dari surga.
Sumber:Inilah.com
Langganan:
Postingan (Atom)